TINJAUAN
PUSTAKA REAKSI KIMIA
Salah satu jenis reaksi
yang umumnya berlangsung dalam larutan berair adalah reaksi pengendapan
(precipitation reaction) yang cirinya adalah terbentuknya produk yang tak
larut, atau endapan. Endapan (precipitate) adalah padatan tak larut yang
terpisah dari larutan. Reaksi pengendapan biasanya melibatkan senyawa-senyawa
ionik. Misalnya, ketika larutan timbal nitrat [Pb(NO3)2]
ditambahkan kedalam larutan natrium iodida (NaI), akan terbentuk endapan kuning
timbal iodida (PbI2).
Pb(NO3)2 (aq) + 2NaI (aq) PbI2 (s) + 2NaNO3 (aq)Natrium nitrat tertinggal dalam larutan.
Endapan tergantung pada
kelarutan (solubility) dari zat
terlarut, yaitu jumlah maksimum zat terlarut yang akan larut dalam sejumlah
tertentu pelarut pada suhu tertentu. Dalam konteks kualitatif, ahli kimia
membagi zat-zat sebagai dapat larut, sedikit larut, atau tak dapat larut. Zatd
ikatakan dapat larut jika sebagian besar zat tersebut melarut bila ditambahkan
air. Jika tidak, zat tersebut digambarkan sebagai sedikit larut tau tidak dapat
larut. Semua senyawa ionik merupakan elektrolit kuat, tetapi daya larutnya
tidak sama. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, ketika senyawa ionik
larut dalam air, maka akan terurai menjadi komponen kation dan anionnya. Agar
lebih realisis, persamaan reaksi sebiknya menunjukkan proses disosiasi senyawa
ionik yang terlarut menjadi ion-ionnya.
Reaksi asam-basa dapat dikenali sebagai proses
transfer-proton. Kelompok reaksi yang disebut reaksi oksidasi-reduksi(atau
redoks) di kenal juga sebagai reaksi transfer-elektron. Reaksi setengah-sel
yang melibatkan hilangnya elektron disebut reaksi oksidasi (oxidation
reaction). Reaksi setengah-sel yang melibatkan penangkapan elektron disebut
reaksi reduksi (reduction reaction). Tingkat oksidasi dalam reaksi redoks harus
sama dengan tingkat reduksi ; yaitu, jumlah elektron yang hilang oleh zat
pereduksi harus sama dengan jumlah elektron yan di terima oleh zat
pengoksidasi. Kereaktifan logam-logam ditunjukkan dengan kecepatan pembentukan
gelembung gas hidrogen, dimana kecepatan terendah dimiliki oleh logam yang
kereaktifnnya terkecil, yaitu Fe, dan yang tercepat dimiliki oleh logam paling
reaktif, Mg.(Raymond Chang,2004).
Reaksi kimia dapat diartikan sebagai suatu proses dimana
zat-zat baru (hasil reaksi), terbentuk dari beberapa zat aslinya, yang disebut
pereaksi. Biasanya suatu reaksi kimia disertai oleh kejadian-kejadian fisis,
seperti perubahan warna, pembentukan endapan, pembentukan gas, serta perubahan
suhu. Kemudian perkembangan zaman yang maju, membuat analisis kimia melakukan
penelitian menggunakan peralatan canggih dengan tujuan membuktikan bahwa reaksi
benar-benar terjadi (Ralph H.petrucci,
1987).
Reaksi kimia secara umum dibagi 2, yaitu reaksi asam-basa
dan reaksi redoks. Pada reaksi redoks terjadi perubahan biloks (bilangan
oksidasi), sedangkan pada reaksi asam-basa tidak ada perubahan biloks. Pada
reaksi redoks terjadi penyetaraan dalam reaksi. Cara teringkas untuk memberikan
suatu reaksi kimia adalah dengan menulis suatu persamaan kimia berimbang yang
merupakan pernyataan kuantitatif mengenai pereaksi yang telibat. Tiap zat
diwakili oleh rumus molekulnya. Menyatakan banyaknya atom-atom dari tiap macam
dalam suatu satuan zat itu. Rumus molekulnya merupakan kelipatan bilangan bulat
rumus empiris zat itu yang menyatakan jumlah minimal yang mungkin dalam
perbandingan yang benar atom-atom dari tiap macamnya. Tiga kelas umum reaksi
yang dijumpai dengan meluas dalam kimia ialah reaksi kombinasi langsung, reaksi
penukargantian sederhana dan reaksi penukargantian rangkap.
Hubungan kuantitatif antara peraksi dan hasil reaksi
dalam suatu persamaan kimia berimbang memberikan dasar stoikiometri.
Perhitungan stoikiometri mengharuskan penggunaan bobot atom unsur dan bobot
molekul senyawa. Banyaknya suatu hasil reaksi tertentu yang menurut perhitungan
akan diperoleh dalam suatu reaksi kimia rendemen teoritis untuk suatu reaksi
kimia. Penting untuk mngetahui mana yang merupakan pereaksi pembatas yakni
pereaksi yang secara teoritis dapat bereaksi sampai habis, sedangkan
pereaksi-pereaksi lain berlebih, dengan mengetahui pereaksi tersebut maka dapat
ditentukan yang mana yang mnejadi zat yang mana yang mengendap (Keenan, 1984).
1. Jika hasil kali konsentrasi ion-ion lebih kecil daripada Ksp elektrolit, maka larutan belum jenuh.
Artinya elektrolit tersebut masih dapat larut dan masih dapat ditambah.
2. Jika hasil kali konsentrasi ion-ion tepat sama dengan Ksp elektrolit, maka larutan tepat jenuh.
Artinya elektrolit itu masih dapat larut , tetapi tidak dapat ditambah lagi.
3. Jika hasil kali konsentrasi ion-ion lebih besar dari Ksp elektrolit, maka larutan lewat jenuh.
Akibatnya, elektrolit akan meengendap (Suprihatiningrum, 2007.)
Ciri
selanjutnya yang menjadi ciri terjadinya reaksi kimia adalah terjadinya
perubahan suhu. Hal ini dikenal dengan proses eksotermis dan endotermis.
Istilah endotermis dan eksotermis digunakan untuk mengggolongkan perubahan
keadaan. Peleburan, sublimasi, dan penguaapan adalah perubahan endotermis,
pembekuan, kondensasi dan deposisi adalah perubahan eksotermik. Istilah
endotermis dan eksotermis juga digunakan untuk mengklasifikasikan reaksi kimia.
Eksotermis adalah proses dimana energi dilepaskan ketika reaksi sedang
brlangsung. Energi tersebut adalah energi pada produk suatu reaksi. Endotermis
adalah proses dimana energi dibutuhkan secara berkelanjutan selama reaksi
sedang berlansung. Energi tersebut adalah energi pada reaktan suatu reaksi.
Fotosintesis adalah proses yang berlangsung pada tumbuhan adalah contoh dari
reaksi enddotermis. Cahaya adalah sumber energi untuk fotosintesis. Energi
cahaya harus secara terus-menerus disediakan dalam proses fotosintesis agar
tetap berlangsung ; tumbuhan hijau yang hanyaa berada di tempat yang gelap akan
mati (Stephen, 1991).
Suatu reaksi eksotermik terjadi
ketika energi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan pada reaktan kurang dari
energi yang dilepaaskan oleh ikatan pada produk. Untuk reaksi endotermis
kebalikannya. Pada reaksi tersebut ada energi yang lebih banyak disimpan pada
ikatan molekul produk dibanding pada ikatan komponen reaktan molekul. Sehingga
terdapat perbedaan entalpi untuk reaksi eksotermis dengan reaksi endotermis,
perubahan entalpi pada reaksi eksotermis betanda negatif sedangkan perubahan
entalpi pada reaksi endotermis bertanda positif (Steephen, 1991).
Ciri yang menjadi ciri
berlangsungnya reaksi kimia adalah terjadi terjadi perubahan warna. Biasanya
perubahan warna tejadi pada reaksi antara logam-logam transisi. Tingkat suatu
reaksi kimia adalah suatu tingkatan atau kecepatan di mana komponen reaaktan
dikonsumsi atau produk diproduksi. Terdapat empat faktor yang berpengaruh
terhadap tingkatan reaksi (1) keaadaan/sifat fisik alami suatu reaktan, (2)
konsentrasi reaktan, (3) suhu reaksi, (4) adanya katalis. Keadaan fisik dari
suatu reaktan tidak hanya merujuk pada keadaan fisik dari reaktan (solid,
liquid, atau gas) tetapi juga ukuran dari partikel. Ketika ukuran partikel
sangat kecil, tingkat reaksi bisa sangat cepat. Suatu gumpalan serbuk batu bara
sukar untuk menyala, serbuk batu bara menyala dengan meledak. Pengapian serbuk
batu bara yang secara spontan adalah suatu ancaman ril untuk bawah tanah bagi
pengusaha operasi batubara.
Faktor yang kedua adalah konsentrasi
reaktan, suatu peningkatan di dalam konsentrasi suatu komponen reaktan
menyebabkan peningkatan di dalam tingkat reaksi. Meningkatnya konsentrasi suatu
komponen reaktan berarti bahwa ada lebih molekul komponen reaktan itu yang ada
di campuran reaksi, ada suatu kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya
benturan antarkomponen reaktan ini dan komponen reaktan partikel dari unsur
lain. Faktor yang ketiga adalah suhu reaksi, efek dari suhu reaksi dapat
dijelaskan dengan menggunakan konsep molekular-benturan, semakin tinggi suhu
reaksi maka benturan antar molekul akan lebih cepat terjadi. Faktor yang
terakhir adalah adanya katalis, fungsi dari katalis ini adalah mempercepat
reaksi namun ia tidak ikut bereaksi (Stephen,
1991).
Perubahan fisis yang dihasilkan pada
suatu reaksi kimia dapat dijadikan indikasi untuk mengidentifikasi suatu
reaksi. Berdasarkan proses terjadinya, reaksi kimia dibedakan menjadi dua,
yaitu : Reaksi kimia berlangsung secara spontan, reaksi kimia yang tidak
memerlukan energi untuk proses reaksinya. Contohnya : pembentukan gas dan
perubahan suhu. Kemudian perubahan fisis yang lain yaitu perubahan suhu,
terdapat dua macam perubahan suhu yang terjadi yaitu endotermik dan eksotermik.
Reaksi endotermik merupakan reaksi yang menyerap kalor, nilai perubahan entalpi
berharga (+). Perubahan kalor pada reaksi endotermik berlangsung dari
lingkungan ke sistem. Sedangkan pada reaksi eksotermik merupakan reaksi yang
melepas kalor, nilai perubahan entalpi berharga (-). Perubahan kalor pada
reaksi eksotermik berlangsung dari sistem ke lingkungan (Hiskia Ahmad, 2001).
DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Kimia dasar : konsep-konsep inti. Jakarta : Penerbit ErlanggaPetrucci, Ralph. Suminar, Ahmad. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid I. Jakarta : ErlanggaKeenan, A. Hadyana Pudjaatmaja, PH. CL, 1992. Kimia Untuk Universitas, Jilid 1. Bandung : ErlanggaSuprihatiningrum, Jamil. 2007. Kimia menarik. Jakarta : GrasindoStephen, Stoker and Edward, Walker. 1991. Fundamentalsof Chemistry General, Organic, and Biological. Amerika : Prentice Hall.Ahmad, Hiskia. 2001. Energetika Kimia. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti
~OurDream









0 comments:
Post a Comment
Komentar anda dan juga Saran yang baik dari anda sangat membantu kami.
Terima Kasih
~OurDream